BOGOR — Pemerintah Kota Ternate memetakan 12 isu strategis yang menjadi tantangan utama dalam pengembangan Geopark Ternate. Isu-isu tersebut mencakup perlindungan warisan geologi, mitigasi bencana, pengelolaan sampah pesisir, konektivitas antar-pulau, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Pemetaan tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Badan Pengelola Geopark Ternate, Thamrin Marsaoly, S.P., M.Sc., dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektor Pemetaan Isu Strategis, Permasalahan, dan Arah Pengembangan yang berlangsung di Bogor, Rabu (28/10/2026).
Salah satu fokus utama yang diidentifikasi adalah perlindungan kawasan vulkanik Gunung Gamalama dan Batu Angus. Tekanan pemanfaatan ruang, perluasan permukiman, serta potensi penambangan material dinilai berisiko mengganggu kelestarian kawasan yang bernilai geologi penting tersebut.
Untuk mengatasinya, pemerintah mengusulkan sinkronisasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), penetapan zonasi perlindungan warisan geologi, inventarisasi kondisi geologi, serta pemantauan kawasan secara berkala. Pengendalian aktivitas yang berpotensi merusak geosite juga dipandang perlu diperkuat.
Selain itu, pengurangan risiko bencana menjadi tantangan yang tak kalah krusial. Pemetaan risiko multi-bencana yang belum optimal, keterbatasan sistem peringatan dini (early warning system), serta jalur dan titik evakuasi yang belum memadai menjadi perhatian mendesak. Penguatan kesiapsiagaan masyarakat serta kesiapan logistik kebencanaan turut masuk dalam agenda penanganan.
Dari aspek lingkungan, penanganan sampah di kawasan pesisir dan perairan menjadi catatan penting. Keterbatasan sarana pengangkutan dan pengolahan sampah, ditambah partisipasi masyarakat yang belum maksimal, berpotensi menurunkan kualitas lingkungan di sekitar geosite.
Sebagai solusi, dokumen tersebut mengusulkan penambahan sarana pengangkutan sampah, penguatan fasilitas pemilahan dan pengolahan, serta pelibatan aktif masyarakat dan pelaku usaha dalam aksi bersih pesisir.
Di sektor infrastruktur, konektivitas antara Pulau Ternate dan Pulau Hiri turut dipetakan. Rehabilitasi dermaga, pembangunan dermaga penyeberangan feri, serta peningkatan layanan transportasi laut dan darat diusulkan guna memperlancar mobilitas warga sekaligus membuka akses bagi wisatawan menuju lokasi geosite.
Pengembangan Geopark Ternate juga diarahkan untuk memadukan pelestarian budaya dan sejarah rempah dengan pariwisata. Strategi ini mencakup inventarisasi warisan budaya, revitalisasi museum dan situs sejarah, hingga pengembangan produk ekonomi kreatif serta kuliner lokal. Keterlibatan UMKM pun akan diperkuat melalui peningkatan kapasitas usaha, standardisasi produk, pemasaran digital, akses pembiayaan, dan kemitraan dengan sektor industri pariwisata.
Adapun isu strategis lainnya meliputi perlindungan keanekaragaman hayati, penyediaan pusat informasi geopark, pengembangan fasilitas edukasi dan riset, pemerataan air bersih, pemanfaatan energi terbarukan, hingga promosi destinasi di tingkat nasional maupun internasional. Dokumen ini menekankan pentingnya kajian daya dukung dan daya tampung geosite agar peningkatan kunjungan wisata tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Secara keseluruhan, pemetaan 12 isu strategis ini menempatkan konservasi, mitigasi bencana, pembangunan infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat sebagai pilar yang saling berikatan dalam pengembangan Geopark Ternate. Kendati demikian, dokumen rapat yang ada belum merinci keputusan akhir, pembagian peran antarinstansi, maupun jadwal pasti pelaksanaan program tersebut. (ary)